Sudah 2 tahun lebih aku kerja di seamolec,semua pasilitas aku dapatkan ditidak seperti di perusahaan lain semua serba terbatas,makanya saya sangat bersukur kepada staff seamolec yang telah memberi saya kesempatan untuk berkerja di seamolec..apa bila ada kekurangan pada diri saya atau ada omongan yang kurang mengenakan mohon dimaafkan karena manusia tidak luput dari kesalahan..thanks for all
Minggu, 19 Juni 2011
bab 2
mengenai/membahasa tentang arsitektur IPTV serta Protokol IPTV
Diantara kelima kelompok fungsi arsitektur IPTV, Content Operation, Service Operation & Management, Media Distribution & Delivery bisa diimplementasikan oleh satu pihak dari rantai nilai secara terpisah, Content Operation diimplementasikan oleh CP (Content Provider), Service Operation &
Management oleh SP (Service Provider) dan Media Distribution & Delivery oleh network operator. Tetapi pada prakteknya, satu pihak pada rantai nilai juga bisa mengimplementasikan lebih dari satu fungsi, misalnya network operator bisa mengimplementasikan dua fungsi sekaligus yaitu fungsi Service Operation & Management dan fungsi Media Distribution & Delivery.
PROTOKOL
Video content pada dasarnya merupakan sebuah stream transport MPEG-2 atau MPEG-4 yang dikirim melalui IP Multicast pada kasus live TV atau melalui IP Unicast pada kasus Video on Demand. IP Multicast adalah suatu metode dimana informasi dapat dikirim ke banyak user pada saat yang sama. Codec H.264 yang di-release lebih baru (MPEG-4) digunakan untuk menggantikan MPEG-2 yang lebih tua.
Protokol standar yang digunakan dalam sistem berbasis IPTV adalah: [1,7]
IGMP versi 2 untuk live TV
RTSP untuk VoD.
bab 2
KONSEP IPTV
IPTV adalah sebuah sistem yang digunakan untuk mengirim layanan televisi digital kepada konsumen yang terdaftar sebagai subscriber dalam sistem tersebut. Pengiriman sinyal digital televisi tersebut memungkinkan diselenggarakan dengan menggunakan Internet Protocol melewati sebuah koneksi broadband yang digunakan dalam sebuah jaringan dengan kualitas yang lebih baik daripada akses internet publik dengan tujuan agar kualitas pelayanan terjamin. Fokus utama dari layanan ini adalah layanan siaran televisi dan video, salah satu nilai tambah layanan IPTV adalah layanan internet seperti akses web dan layanan telefoni seperti VoIP (Voice over Internet Protocol) yang bila layanan-layanan itu diakses sekaligus disebut sebagai Triple Play.
Saat ini IPTV sedang menjadi pembicaraan hangat di seluruh dunia. Pemberitaan media massa ialah kelebihan dari beberapa layanan yang dapat disajikan oleh IPTV dimana dengan layanan IPTV kita bisa menerima layanan televisi dan video disamping layanan-layanan multimedia lain dengan memanfaatkan koneksi berbasis IP.
Perlu diingat bahwa IPTV tidak seperti program televisi broadcast biasa yang menggunakan internet, tetapi lebih dari itu dimana IPTV merupakan sistem yang tertutup serta siaran atau tayangannya berhak paten yang mirip dengan layanan TV kabel. Namun perbedaannya pengiriman IPTV dibuat lewat kanal-kanal berbasis IP yang cukup aman.
Layanan IPTV di-deliver oleh provider dengan menggunakan basis IP melalui koneksi broadband dengan alokasi bandwidth yang dedicated. IPTV terlihat jelas berbeda dengan video internet dimana video internet menyediakan layanan dalam menonton video, seperti preview film dan webcam. Layanan ini sering disebut best effort oleh penyedia jasa internet yang tidak memiliki servis manajemen back-to-back dengan pertimbangan-pertimbangan kualitas layanannya. Sedangkan layanan IPTV lebih luas, user friendly, interaktif serta di-deliver dengan teknologi DSL (Digital Subscriber Line) berkecepatan tinggi, seperti ADSL (Asymetric Digital Subscriber Line), ADSL2+ dan VDSL (Very High Data Rate Digital Subscriber Line). Tentu saja hal ini menawarkan nilai tambah serta menciptakan peluang bagi industri penyedia layanan telekomunikasi. Oleh sebab itu IPTV memberi jalan kepada para provider dalam berpartisipasi dan menyediakan efisiensi pada pasar Triple Play (suara, video, dan internet) Minimal 4 tipe layanan yang harus didukung oleh IPTV, yaitu [9]: live TV, VoD (Video on Demand), TSTV (time-shifted TV) dan PVR (Personal Video Recording).
2.2 DISTRIBUSI PROGRAM IPTV
Gambar 2.1 dibawah ini menunjukkan bagaimana suatu sistem televisi berbasis IP dapat digunakan oleh pengguna untuk mengakses ke beberapa sumber media yang berbeda. Diagram ini menunjukan bagaimana suatu televisi terhubung dengan Set Top Box (STB) yang mengkonversi video IP ke dalam sinyal televisi standar. STB merupakan gateway ke sistem switching video IP.
ontoh ini menunjukkan bahwa sistem switched video select (SVS) membolehkan pengguna melakukan koneksi dengan berbagai tipe sumber media televisi termasuk di dalamnya kanal jaringan broadcast dan movies on demand. Ketika pengguna menginginkan untuk mengakses sumber-sumber media tersebut, perintah-perintah pengendalian (biasanya dimasukkan oleh pengguna dengan
remote control televisi) dikirim ke SVS dan kemudian SVS menentukan sumber media yang diinginkan oleh pengguna untuk berkoneksi. Diagram diatas menunjukkan bahwa pengguna hanya membutuhkan satu kanal video ke SVS untuk mempunyai akses ke sejumlah sumber video tak terbatas secara virtual.
batasan masalah
1.Pengembangan penerapan IPTV dibeberapa negara serta kesiapan penerapan IPTV di SEAMOLEC.
2.Penelitian ini tidak menghasilkansuatu standar IPTV
rumusan masalah
b. IPTV sebagai teknologi konvergensi antara telekomunikasi dan penyiaran merupakan babak baru bagi dunia telekomunikasi di Indonesia sehingga perlu diambil langkah- langkah yang harus dipersiapkan dalam penerapan IPTV di Indonesia
c. Perlu pengkajian yang mendalam dalam penerapan IPTV karena IPTV merupakan layanan yang bersifat kompleks serta berkaitan dengan
maksud dan tujuan
1.Memberikan solusi bagi Seamolec sendiri dalam memberikan pelayanan yang mudah kepada masyarakat.
2.Merancang sistem baru yang lebih efektif dan efisien sesuai kebutuhan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
3.Dapat menggunakan sistem yang telah dirancang oleh penulis jika rancangannya sesuai dengan yang diharapkan.
Tujuan Penulisan
1.Rancangan sistem yang dibuat akan menjadi masukan bagi Seamolec dalam hal memberikan informasi kepada masyarakat.
2.Dapat menerapkan dan merealisasikan ilmu pengetahuan yang sudah di dapat selama kuliah.
3.Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan serta pengalaman bagi penulis dalam menganalisa sistem yang kurang efektif menjadi sistem baru yang lebih baik dari sistem sebelumnya.
pendahuluan
Berkat pesatnya perkembangan teknologi informasi dan telekomunikasi maka media seperti televisi juga bisa berubah sifat atau karakternya. Jika sebelumnya penonton televisi hanya dapat bersikap pasif, dalam arti hanya bisa “pasrah” memilih dari sekian banyak saluran yang tersedia, kini bisa bersikap jauh lebih aktif. IPTV sendiri adalah suatu sistem dimana layanan digital televisi yang dikirimkan melalui IP (Internet Protocol) dengan menggunakan jaringan infrastruktur diantaranya koneksi berkecepatan tinggi. IPTV merupakan siaran TV digital yang dipancarkan melalui sambungan internet broadband pada jaringan tertutup sehingga hanya mereka yang terdaftar sebagai pelanggan saja yang dapat mengakses layanan tersebut.
Teknologi IPTV mendukung transmisi standar televisi dan program video melalui internet dengan berbasis platform IP address sehingga membuat IPTV menjadi lebih interaktif serta memungkinkan layanan televisi dapat terintegrasi dengan layanan internet serta dapat membagi koneksi dengan sesama pengguna. IPTV bisa berwujud siaran televisi biasa atau berupa database program acara dan film yang dapat diakses dan dipilih sendiri oleh penonton menyerupai Pay TV di hotel-hotel berbintang, selain itu penonton bisa sesuka hati memutar ulang siaran yang terlewatkan. Sebagaimana teknologi lain yang berbasiskan IP, kendali IPTV pun berada di tangan penonton sehingga membuat siaran menjadi bersifat lebih personal dan interaktif.
Selain membuka peluang distribusi dua arah dan multiple-stream, IPTV menjadi awal layanan triple play atau satu saluran untuk tiga macam layanan, sebagai contoh seorang pelanggan IPTV dapat menggunakan layanan telepon, video/TV dan internet sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Teknologi IPTV awal perkembangannya dimulai dari kawasan Eropa dan Amerika Utara dimana di kawasan tersebut telah memiliki infrastruktur komunikasi pita lebar yang memadai dan merata. Di Indonesia sendiri, hambatan bagi penyelenggaraan IPTV adalah belum tersedianya saluran komunikasi pita lebar yang memadai sehingga perlu perhatian lebih dari pemerintah untuk dapat mempercepat pembangunan infrastruktur pita lebar agar infrastruktur pita lebar sebagai jalur utama jaringan layanan berbasis IP dapat lebih luas menjangkau wilayah dan kota-kota di Indonesia sekaligus diharapkan nantinya menjangkau wilayah pedesaan di Indonesia. Secara umum layanan IPTV membutuhkan jaringan akses dengan kecepatan 2 sampai dengan 8 Mbps sedangkan kemampuan jaringan broadband berbasis ADSL pada saat ini rata-rata hanya berkecepatan 512 Mbps. Dari studi yang dilaksanakan oleh Ditjen Postel mengindikasikan bahwa layanan IPTV mempunyai prospek yang cukup menjanjikan dan akan menjadi kebutuhan bagi masyarakat. Industri manufaktur telekomunikasi juga perlu mendapatkan perhatian dan dispensasi agar dapat lebih bersaing dengan produk luar negeri dan dapat menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Secara umum ada dua aspek menonjol yang dapat mempengaruhi tingkat penyebaran dan perkembangan IPTV yaitu jaringan infrastruktur dan regulasi. Untuk aspek jaringan infrastruktur lebih dapat diprediksi kebutuhan dan perkembangannya, sedangkan untuk aspek regulasi merupakan faktor yang lebih sulit diprediksi karena regulasi yang disusun untuk layanan broadband pada umumnya dan IPTV pada khususnya merupakan dampak dari cepatnya perkembangan teknologi serta merupakan konvergensi dari bidang telekomunikasi dan bidang penyiaran sehingga dengan demikian aspek regulasi menjadi sangat kompleks dengan tetap harus dapat mengakomodasikan kepentingan seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan layanan ini yaitu pemerintah sebagai penetu kebijakan, provider IPTV, content provider, operator jaringan dan user selaku konsumen.
Konsep kebijakan mengenai penyelenggaraan IPTV penting untuk dipersiapkan karena mengingat potensi pasar di Indonesia sangat besar seiring meningkatnya jumlah pengguna broadband access dan layanan internet per tahunnya, apalagi di beberapa negara berkembang sudah mengimplementasikan layanan IPTV tersebut. Kolaborasi dari stakeholder diperlukan dalam mempersiapkan layanan IPTV dimana IPTV merupakan bagian dari konvergensi TIK yang akan melibatkan lembaga dan industri telekomunikasi serta penyiaran.
Berdasarkan pada latar belakang pemikiran di atas, penelitian ini akan mengkaji persiapan penerapan IPTV di Indonesia karena penyelenggaraan layanan IPTV nantinya diharapkan dapat mengedepankan interoperabilitas layanan dan jaringan, peningkatan kualitas pelayanan bagi pelanggan IPTV serta dapat membuka peluang terhadap pengembangan local content di Indonesia sehingga diharapkan layanan IPTV dapat lebih terjangkau oleh banyak kalangan yang selanjutnya secara jangka panjang akan berdampak pada meningkatnya perkembangan IPTV baik dari aspek kualitas layanan, industri manufaktur telekomunikasi dalam hal ini perangkat IPTV, industri konten maupun industri penyiaran.
Selasa, 19 April 2011
IPTV
Apa jadinya jika Teknologi Informasi dikawinkan dengan televisi? Siapa yang akan menjadi tuan rumah, komputer atau pesawat televisi? Jika komputer, maka siaran televisi nantinya bisa diakses melalui sebuah website. Namun, jika pesawat televisi yang jadi tuan rumah, maka gambar dan suara akan disalurkan melalui IP. Untuk jawaban yang terkahir, kita mengenal istilah IPTV.
Secara sederhana, Internet Protocol Television (IPTV) adalah metode penyaluran gambar dan suara televisi melalui IP. IPTV merupakan sebuah sistem yang mampu menerima dan menampilkan sebuah video stream yang di-encode sebagai serangkaian paket berbasis IP.
Proses penerimaan siaran televisi pada IPTV tidak berbeda dengan dua metode yang sudah dikenal sebelumnya, yakni menggunakan antena penerima sinyal dari pemancar untuk televisi konvensional, dan menggunakan kabel untuk televisi kabel. Perbedaannya terletak pada tipe data yang dikirimkan dari stasiun televisi ke rumah-rumah.
Pada IPTV, data yang dikirimkan oleh penyedia siaran televisi berupa paket-paket berbasis IP yang diterjemahkan oleh pesawat televisi pelanggan sebagai data gambar dan suara.
Cara Kerja IPTV
Decoder yang sudah tertancap di pesawat televisi dihubungkan dengan jalur Internet DSL di rumah-rumah. Alat ini bertanggung jawab menyatukan kembali paket-paket berbasis IP yang diterima dari penyedia siaran IPTV ke dalam bentuk video stream yang koheren, dan men-decode-nya menjadi gambar dan suara.
Tugas tersebut sebenarnya bisa digantikan oleh komputer. Namun, sangat jarang orang meletakkan komputer yang selalu menyala di samping pesawat televisi, bukan? Oleh karena itu, sebuah kotak decoder yang dinilai kecil dinilai masih lebih efisien ketimbang memaksa komputer melakukan tugas tersebut.
Sebagian besar video dalam sistem IPTV di-encode dalam format MPEG-2, kendati format H.264 dan Windows Media juga memungkinkan. Video stream ini dipecah menjadi paket-paket berbasis IP dan dimasukkan ke dalam jaringan milik penyedia siaran IPTV (yang juga perusahaan telekomunikasi) tempat dimana data-data lain (voice dan data) berjalan.
Lantas, bagaimana memperlakukan data video stream tersebut agar tidak tersendat sampai ke pesawat televisi pemirsa? Penyedia sistem IPTV menerapkan Quality of Service (QoS) yang memprioritaskan data video stream untuk mencegah terjadinya delay, atau terputusnya sinyal siaran IPTV.
Stasiun Relay
Pelanggan biasanya tidak terhubung langsung dengan kantor pusat penyedia layanan siarn IPTV, melainkan melalui stasiun relay atau kantor cabang terdekat. Di kantor cabang inilah siaran yang berasal dari kantor pusat, dipadukan dengan local content, seperti channel televisi, iklan, serta video on demand (VoD). Di sini pula lah sebuah middleware IPTV ditempatkan.
Middleware IPTV merupakan sekumpulan software yang melayani otentikasi pelanggan, permintaan perubahan channel, tagihan, permintaan VoD, dan lain-lain. Seluaruh channel siaran IPTV dikirimkan kepada stasiun relay secara simultan, yang biasanya menimbulkan efek leher botol di sana.
Leher botol ini disebabkan keterbatasan bandwidth DSL, yang tidak mampu mengantarkan semua channel video stream ke pelanggan dalam waktu yang bersamaan. Hal ini tidak terjadi pada televisi kabel, karena ketersediaan bandwidth kabel yang mencapai hingga 4,5 Gbps. Sementara ADSL2+ yang paling anyar, baru mampu menyediakan bandwidth pada kisaran 25 Mbps.
Lantas, bagaimana cara stasiun relay mengirimkan ratusan channel siaran IPTV kepada pelanggan menggunakan jalur internet DSL? Stasiun relay hanya mengirimkan satu channel siaran IPTV dalam satu waktu. Ketika pelanggan mengganti channel dengan memencet tombol pada remote control misalnya, decoder tidak melakukan tuning seperti pada televisi konvensional dan kabel.
Yang terjadi selanjutnya adalah decoder mengubah channel yang menggunakan IP Group Membership Protocol (IGMP) v2 untuk masuk ke dalam kelompok multicast baru. Ketika stasiun relay menerima pengubahan ini, middleware akan melakukan otentikasi ulang, apakah pelanggan yang bersangkutan memang berlangganan channel baru yang diinginkannya.
Selanjutnya, middleware memerintahkan router yang ada di stasiun relay untuk menambahkan data pelanggan tersebut pada daftar distribusi channel. Dengan demikian, hanya sinyal yang diminta oleh pelanggan yang dikirimkan oleh stasiun relay ke pesawat televisi pelanggan.
Peluang dan Tantangan
Khusus di tanah air, kendala terbesar dalam mengimplementasikan IPTV adalah keterbatasan bandwidth. Karena IPTV tidak menggunakan sinyal frekuensi publik, maka masalah perizinan tidak akan sesulit mendirikan tower pemancar untuk stasiun televisi konvensional. Sementara di negara-negara yang terkenal ketat dengan sensor konten Internet, tentu saja akan ada regulasi tambahan bagi penyedia siaran IPTV.